Cerpen Lembaran Baru
Namaku
Nishimura Kazuto, teman – temanku biasa memanggiku Kazuto. Aku tak tau mengapa
orang tuaku menamaiku Nishimura Kazuto yang ku tahu semua anggota keluargaku
berasal dari Indonesia terkecuali Neneku, dia berasal dari Tokyo. Tema –temanku
menjulukiku si “kutu buku”. Yah, mungkin karena kemana–mana aku selalu membawa
buku. Selain membaca buku aku juga pendiam, kalau dikelas aku paling suka selalu
duduk di pojok belakang deket jendela.
Kisahku adalah kisah yang tak dapat dideskripsikan.
Kisahku tak seindah dan tak semenarik kisah kalian.Kisahku berawal dari mulai
duduk di bangku kelas 7 di SMPI AL MIZAN Surabaya. Semua yang kulakukan sewaktu
di SD dulu telah sirna seketika. Dan saat ini adalah taahun ke 2 ku di SMPI AL
MIZAN Surabaya. Disekolah ini aku banyak mengambil pelajaran yang tak semua
sekolah memilikinya. Peraturan demi peraturan setiap tahunnya pasti akan
berubah dan pastinya makin ketat. Aku bersyukur karna bisa sekolah di sini.
Sekolah ini mengajarkanku bertapa pentingnya sebuah ketaatan.
Suatu hari disekolahku mengadakan sebuah lomba menulis cerpen. Banyak anak – anak yang ikut serta dalam lomba menulis cerpen tersebut dan aku satu diantara banyaknya anak yang ikut serta dalam lomba tersebut. Aku memiliki sahabat namanya Ishida Keiko, dia anak yang baik, cantik, periang dan tentunya pintar. Dia juga termasuk salah satu diantara peserta lomba menulis cerpen.
“ Kazu….” Dari kejauhan Keiko memanggil Kazuto.
Merasa namanya di panggil Kazuto pun menghentikan langkahnya.
“ Ya ada apa Keiko?”
“ Kamu ikut lomba menulis cerpen?” tanyanya padaku
“ Pastinya lah ikut, lagian itu juga sebagai rasa banggaku kepada kebangsaan Indonesia. Jika aku ikut lomba menulis cerpen berarti aku juga menjunjung tanah air Indonesia”jawabku dengan tenang.
“ Gimana kalau nulis cerpennya dirumahku saja?”
“ Oke, rumah kitakan berdekatan”
“ Aku tunggu ya Kazu pukul 15.00 sore”
Merekapun berpisah masuk ke rumah masing – masing.
***
“ Assalamualaikum” ucapku samil mengetuk pintu.
“ Waalaikumsalam” jawab bunda daridalam sambil membuka pintu.
Meskipun aku sudah SMP tapi sifatku masih seperti anak – anak seumuran SD. Masih membutuhkan kasih sayang dari orang tua. Contohnya, saat pulang sekolah aku pasti langsung berjabat tangan dan bunda pun mencium kedua pipiku.
“ Bun nanti aku ke rumah Keiko ya.”
“ Mau ngapain?, tadi gurumu telpon bunda katanya kamu ikut lomba menulis cerpen. Kok malah main sih?” omelny panjang lebar.
“ Iya.. bunda Kazu itu mau kerumah Keiko mau ngerjain tugasnya.” jawabku.
“iya tapi jangan lama – lama ya.”
“ Oke.. bunda.”
***
“ Keiko,”
“ Iya sebentar,”
“ Jadi nggak?”
“ Jadilah, ayo masuk.”
Aku dan Keiko masuk rumah dan menuju ruang belajar dan mulai mengerjakan tugasnya.
30 menit kemudian tak terasa tugas pun selesai, aku pun berpamitan kepada Keiko dan bunda Laura untuk pamit pulang dan tentunya tak lupa mengucapkan terima kasih kepada mereka yang sudah menyambutku dengan hangat.
Suatu hari disekolahku mengadakan sebuah lomba menulis cerpen. Banyak anak – anak yang ikut serta dalam lomba menulis cerpen tersebut dan aku satu diantara banyaknya anak yang ikut serta dalam lomba tersebut. Aku memiliki sahabat namanya Ishida Keiko, dia anak yang baik, cantik, periang dan tentunya pintar. Dia juga termasuk salah satu diantara peserta lomba menulis cerpen.
“ Kazu….” Dari kejauhan Keiko memanggil Kazuto.
Merasa namanya di panggil Kazuto pun menghentikan langkahnya.
“ Ya ada apa Keiko?”
“ Kamu ikut lomba menulis cerpen?” tanyanya padaku
“ Pastinya lah ikut, lagian itu juga sebagai rasa banggaku kepada kebangsaan Indonesia. Jika aku ikut lomba menulis cerpen berarti aku juga menjunjung tanah air Indonesia”jawabku dengan tenang.
“ Gimana kalau nulis cerpennya dirumahku saja?”
“ Oke, rumah kitakan berdekatan”
“ Aku tunggu ya Kazu pukul 15.00 sore”
Merekapun berpisah masuk ke rumah masing – masing.
***
“ Assalamualaikum” ucapku samil mengetuk pintu.
“ Waalaikumsalam” jawab bunda daridalam sambil membuka pintu.
Meskipun aku sudah SMP tapi sifatku masih seperti anak – anak seumuran SD. Masih membutuhkan kasih sayang dari orang tua. Contohnya, saat pulang sekolah aku pasti langsung berjabat tangan dan bunda pun mencium kedua pipiku.
“ Bun nanti aku ke rumah Keiko ya.”
“ Mau ngapain?, tadi gurumu telpon bunda katanya kamu ikut lomba menulis cerpen. Kok malah main sih?” omelny panjang lebar.
“ Iya.. bunda Kazu itu mau kerumah Keiko mau ngerjain tugasnya.” jawabku.
“iya tapi jangan lama – lama ya.”
“ Oke.. bunda.”
***
“ Keiko,”
“ Iya sebentar,”
“ Jadi nggak?”
“ Jadilah, ayo masuk.”
Aku dan Keiko masuk rumah dan menuju ruang belajar dan mulai mengerjakan tugasnya.
30 menit kemudian tak terasa tugas pun selesai, aku pun berpamitan kepada Keiko dan bunda Laura untuk pamit pulang dan tentunya tak lupa mengucapkan terima kasih kepada mereka yang sudah menyambutku dengan hangat.
***
Setelah cerpen dikumpulkan ke wali kelas untuk di seleksi dan diambil 3 terbaik. Kemudian ketiga cerpen terbaik tersebut akan dikirim ke dinas untuk mewakili sekolah dalam lomba cerpen.
Dan di antara ke 3 terbaik itu aku termasuk didalamnya dengan judul “ Aku bangga dengan negriku.”
Namun kegembiraanku sirna seketika saat kuliah wajah sahabatku murung, aku pun menghampirinya.
“ Hey… Keiko ada apa? Mengapa wajahmu murung?”
“ Aku tak apa Kazu.”
“ Jika kau tak apa mengapa wajahmu murung?”
“Aku hanya tidak enak badan saja kazu.” Jawabnya tanpa menatapku dan beranjak pergi meninggalkanku dengan tatapan bingung aku pun melepas kepergiannya. Aku tak tahu mengapa dia bisa seperti itu. Saat ini aku hanya bisa berfikir positif saja. Semoga dia baik – baik saja.
Setelah cerpen dikumpulkan ke wali kelas untuk di seleksi dan diambil 3 terbaik. Kemudian ketiga cerpen terbaik tersebut akan dikirim ke dinas untuk mewakili sekolah dalam lomba cerpen.
Dan di antara ke 3 terbaik itu aku termasuk didalamnya dengan judul “ Aku bangga dengan negriku.”
Namun kegembiraanku sirna seketika saat kuliah wajah sahabatku murung, aku pun menghampirinya.
“ Hey… Keiko ada apa? Mengapa wajahmu murung?”
“ Aku tak apa Kazu.”
“ Jika kau tak apa mengapa wajahmu murung?”
“Aku hanya tidak enak badan saja kazu.” Jawabnya tanpa menatapku dan beranjak pergi meninggalkanku dengan tatapan bingung aku pun melepas kepergiannya. Aku tak tahu mengapa dia bisa seperti itu. Saat ini aku hanya bisa berfikir positif saja. Semoga dia baik – baik saja.
***
Hari demi hari persahabatanku dengan Keiko semakin renggang, semenjak kejadian 1 Minggu yang lalu kami mulai jarang berbincang.
Da tibalah saat yang ditunggu – tunggu. Yaitu pengumuman lomba menulis cerpen telah tiba.
Aku memenangkan lomba tersebut. Aku mendapat juara 2. Dan pada kejadian tersebut aku baru sadar bahwa aku telah melakukan kesalahan. Aku tahu apa yang menyebabkan dia murung dan menjauh dariku.
Dalam hati aku sangat menyesal mengapa aku baru menyadarinya saat ini. Kenapa tidak dari kemarin – kemarin. Penyesalan demi penyesalan muncul dalam diriku. Aku tak tahu harus berbuat apa, yang ada dalam pikiranku hanyalah kalimat maaf. Dan aku tak tahu bagaimana cara memulai kata maaf tersebut.
Hari demi hari persahabatanku dengan Keiko semakin renggang, semenjak kejadian 1 Minggu yang lalu kami mulai jarang berbincang.
Da tibalah saat yang ditunggu – tunggu. Yaitu pengumuman lomba menulis cerpen telah tiba.
Aku memenangkan lomba tersebut. Aku mendapat juara 2. Dan pada kejadian tersebut aku baru sadar bahwa aku telah melakukan kesalahan. Aku tahu apa yang menyebabkan dia murung dan menjauh dariku.
Dalam hati aku sangat menyesal mengapa aku baru menyadarinya saat ini. Kenapa tidak dari kemarin – kemarin. Penyesalan demi penyesalan muncul dalam diriku. Aku tak tahu harus berbuat apa, yang ada dalam pikiranku hanyalah kalimat maaf. Dan aku tak tahu bagaimana cara memulai kata maaf tersebut.
***
Tibalah saatnya pulang sekolah.
“ Kring… kring…” bunyi lonceng sekolah berbunyi dengan nyaringnya. Pertanda berakhirnya pelajaran hari ini. Anak – anak segera berhamburan keluar kelas untuk pulang. Aku berkeliling lapangan mencari seseorang yang entah sejak kapan aku mencarinya.Dan pada akhirnya dibawah pohon beringin yang besar aku menemukannya sedang duduk termenung membawa selembar kertas.
“ Keiko..”
“ Apa yang kau lakukan disini Kazu?”
“ Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu Keiko.”
“ Bukan urusanmu”
“ Tentu saja itu urusanku aku sahabatmu Keiko. Dan kedatanganku saat ini aku ingin meminta maaf padamu.”
“ Meminta maaf untuk apa?” jawabnya tanpa menatapku.
“ Aku tak tahu” jawabku lemah.
“Lantas apa maksudmu meminta maaf jika kau saja tak tahu apa kesalahanmu.”
“Makanya aku datang kesini, aku ingin bertanya padamu apa salahku Keiko.”
“Kau tak bersalah Kazu.”
“ Jika aku tak bersalah mengapa kau menjauhiku”
“ Apa ini yang dinamakan sahabat. Dia pergi tanpa kejelasan, dia marah tanpa pernah tau kesalahannya apa, dan dia tidak mau mendengarkan kata ucapan sahabatnya. Apa ini yang dinamakan sahabat?”
Di kejauhan ku mendengar isakan tagis, aku dalam posisi serba salah, yang kulakukan hanya menghampiri Keiko untuk menenangkannya.
“ Maaf…” Ucapnya dengan nada lirih.
“ Maaf untuk apa Keiko, bukankan aku yang harus meminta maaf padamu.”
“ Maaf Kazu aku yang salah tidak bisa menjadi sahabat yang baik bagimu.”
“ Yang berlalu biarkanlah menjadi bagian dari masa lalu dan kita jadikan saja sebagai pelajaran. Dan saat ini kita mulai dari awal.”
Tibalah saatnya pulang sekolah.
“ Kring… kring…” bunyi lonceng sekolah berbunyi dengan nyaringnya. Pertanda berakhirnya pelajaran hari ini. Anak – anak segera berhamburan keluar kelas untuk pulang. Aku berkeliling lapangan mencari seseorang yang entah sejak kapan aku mencarinya.Dan pada akhirnya dibawah pohon beringin yang besar aku menemukannya sedang duduk termenung membawa selembar kertas.
“ Keiko..”
“ Apa yang kau lakukan disini Kazu?”
“ Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu Keiko.”
“ Bukan urusanmu”
“ Tentu saja itu urusanku aku sahabatmu Keiko. Dan kedatanganku saat ini aku ingin meminta maaf padamu.”
“ Meminta maaf untuk apa?” jawabnya tanpa menatapku.
“ Aku tak tahu” jawabku lemah.
“Lantas apa maksudmu meminta maaf jika kau saja tak tahu apa kesalahanmu.”
“Makanya aku datang kesini, aku ingin bertanya padamu apa salahku Keiko.”
“Kau tak bersalah Kazu.”
“ Jika aku tak bersalah mengapa kau menjauhiku”
“ Apa ini yang dinamakan sahabat. Dia pergi tanpa kejelasan, dia marah tanpa pernah tau kesalahannya apa, dan dia tidak mau mendengarkan kata ucapan sahabatnya. Apa ini yang dinamakan sahabat?”
Di kejauhan ku mendengar isakan tagis, aku dalam posisi serba salah, yang kulakukan hanya menghampiri Keiko untuk menenangkannya.
“ Maaf…” Ucapnya dengan nada lirih.
“ Maaf untuk apa Keiko, bukankan aku yang harus meminta maaf padamu.”
“ Maaf Kazu aku yang salah tidak bisa menjadi sahabat yang baik bagimu.”
“ Yang berlalu biarkanlah menjadi bagian dari masa lalu dan kita jadikan saja sebagai pelajaran. Dan saat ini kita mulai dari awal.”
Dibawah pohon beringin kami berjanji
menjalin ikatan persahabatan selamanya.
Kami akan selalu bersama, saling ada saat dibutuhkan. Terkadang sebuah ikatan itu suatu saat pasti akan timbul permasalahan dan disini kisah Kazuto dan Keiko mengajarkan kita bahwa persahabatan itu bukan dari materi saja tapi dari kesetiaan. Dari kesetiaan maka timbullah rasa senang satu sama lain.
Kami akan selalu bersama, saling ada saat dibutuhkan. Terkadang sebuah ikatan itu suatu saat pasti akan timbul permasalahan dan disini kisah Kazuto dan Keiko mengajarkan kita bahwa persahabatan itu bukan dari materi saja tapi dari kesetiaan. Dari kesetiaan maka timbullah rasa senang satu sama lain.
Amanat
: Sebuah ikatan yang tidak di dasari dengan kepercayaan maka tak selamanya akan
abadi.