Rabu, 08 Agustus 2018

Cerpen Kreasiku


Arek Suroboyo

 

Assalammualaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh

 

Saya bangga menjadi anak Surabaya, kenapa? karena di Surabaya terdapat beraneka ragam nuansa yang dapat menyejukkan pandangan saya, memenuhi hajat saya baik pendidikan, kesehatan, sosial, sarana hiburan dan lain-lain, seperti : Flora dan Fauna, wisata kuliner, tempat wisata taman hiburan, beberapa keunikan lainnya yang dimiliki kota Surabaya. Kota pahlawan itulah julukan yang populer diketahui seantero nusantara dibuktikan dengan gedung-gedung bersejarah,museum bahkan ada tugu pahlawan yang menjulang tinggi sebagai bukti bahwa kota Surabaya adalah kota pahlawan. 

Sederetan taman di setiap penjuru kota Surabaya sangat indah dan menyejukkan mata seperti taman Flora dan Fauna, Kebun Bibit Wonorejo,  Ekowisata Mangrove Wonorejo, Mangrove Gunung Anyar, Kampung Wisata Lingkungan Jambangan dan masih banyak tempat lagi yang ada di Surabaya. Begitu pula makanan khas Surabaya dari yang kaya akan rempah dan aneka – aneka ragam menu masakan yang enak dan lezat, yang dapat saya temui di berbagai tempat dari mulai kaki lima, restoran, kafe, foodcourt seperti  wisata kuliner seperti :  G-Walk, Pakuwon Food Festival, Mie Pecun, Rujak Cingur Ahmad Jaiz, Lontong Balap Garuda Pak Gendut.

       Tempat dan taman hiburan yang mengedukasi yang penuh dengan nuansa sejarah Surabaya seperti: Monumen atau tugu pahlawan, patung Buddha dengan Empat Wajah, Jembatan Merah, Monumen Kapal Selam, Museum Mpu Tantular dan Surabaya carnival. Beberapa keunikan lainnya yang ada dimiliki kota Surabaya yang masih terawat sampai sekarang seperti :  Jembatan Merah, Pantai Kenjeran, Masjid Cheng Hoo, Museum 10 November, Jembatan Suramadu, Pakuwon Food Festival. Tempat-tempat bersejarah yang ada di Surabaya untuk mengetahui dan napak tilas perjuangan para pahlawan seperti: Monumen atau tugu pahlawan, Jembatan Merah, Monumen Kapal Selam, Museum WR. Soepratman. Itulah yang menyebabkan saya bangga menjadi anak Surabaya.

 

 

Disisi lain Surabaya juga memiliki kekayaan alam baik yang dapat diperbaharui maupun yang tak dapat diperbaharui, seperti yang dimiliki kota Surabaya adalah kaya akan budi daya alam, pertambangan, dan juga industri. Akan tetapi sayangnya sumber daya manusia yang dimiliki masih kurang sehingga pemanfaatan alam belum maksimal budi daya alam, pertambangan dan juga industri masih banyak dikelola pihak asing. Itulah yang menyebabkan bumi rusak karena akibat perbuatan manusia yang tidak cinta akan alam seperti menebang pohon secara liar, membuang limbah ke sungai, membuang sampah sembarangan.

Seharusnya manusia sadar atas semua yang mereka lakukan sehingga membuat bumi rusak dan sudah seharusnya melakukan reboisasi untuk menjaga keseimbangan alam, ekosistem lainnya. Peraturan pemerintah sangatlah harus dilaksanakan sehingga orang sadar akan kebutuhan alam yang asri dan tidak semena - mena melakukan perusakan alam Surabaya yang kita cintai.  

Surabaya dalam bahasa jawa adalah Suroboyo dari kata Sura dan Baya. ada yang mengatakan juga bahwa  Surabaya berasal dari kata "sura ing bhaya" yang berarti "keberanian menghadapi bahaya". selain itu Surabaya juga kota bersejarah yang sangat mengesankan karena perang 10 November yang membakar semangat juang arek - arek Suroboyo untuk mengantarkan rakyat Surabaya kedalam pintu gerbang kemerdekaan Indonesia. Dan saya bangga menjadi anak surabaya,karena di surabaya adalah tempat perlawanan para penjajah melawan belanda yang dikenal dengan arek-arek surabaya yang dipimpin oleh bung tomo.

Sebenarnya saya berasal dari Madiun, tapi berhubung saya sudah lama tinggal di Surabaya, saya sangat cinta pada kota Surabaya. Di Surabaya ini, saya tinggal di sebuah asrama yang sangat nyaman. Di asrama itu saya mendapatkan banyak teman, temannya pun baik - baik. Di asrama itu saya diajarkan hidup mandiri, saya melakukan hal – hal yang bermanfaat sendiri seperti: mencuci baju sendiri, menyapu, mengepel, membereskan kamar sendiri, memasak masakan yang mudah dimasak dan masih banyak lagi aktivitas lainnya yang seru dan bermanfaat. Tetapi saya tidak akan pernah lupa dengan kota Madiun, kota kelahiran saya.

 

 

 

Di kota Surabaya ini terasa nyaman dan sejuk karena banyak pepohonan di sepanjang jalan. Banyak taman - taman yang tersebar di setiap sudut kota. Anak - anak Surabaya pun pandai - pandai, saya pun bangga sekarang menjadi anak Surabaya. Meski bukan tempat lahir saya, saya sangat senang berada di kota Surabaya. Saya pun berusaha menjadi anak Surabaya yang pandai. Saya harus belajar dengan giat dan rajin agar menjadi anak yang pandai. Banyak anak Surabaya yang menghasilkan karya - karya terbaik mereka. Dan banyak pula anak Surabaya yang mengikuti kegiatan perlombaan seperti olimpiade. Bahkan ada anak Surabaya yang bertukar pelajar dengan negara lain dan negara tetangga.

Pada tahun 2015, anak – anak Surabaya menghasilkan sebuah karya berupa film animasi 2 dimensi yang berjudul “ Battle of Surabaya “ yang diluncurkan pada tanggal 20 / 08 / 2015. Cerita Battle of Surabaya merupakan cerita adaptasi dari peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Cerita dibuka dengan visualisasi dahsyat dari pemboman kota Hiroshima oleh Sekutu yang menandakan menyerahnya Jepang. “Battle of Surabayamenceritakan kisah pemuda yang memiliki jiwa spontan, berani dan bertanggung jawab yang bernama Musa. Musa hidup dibawah tekanan kebutuhan di era kolonialisme Jepang. Terlepas dari kenyataan bahwa hidup tidak mudah, Musa memimpin kehidupan dengan sabar. Bagi Musa, hidup itu adalah sebuah pilihan. Musa memiliki semangat patriotik dan perdamaian berdasarkan nilai - nilai ilahi.

Menghabiskan hari libur di surabaya sangatlah menyenangkan, karena banyaknya tempat rekreasi. Setiap hari libur saya dan keluarga di asrama selalu menyempatkan waktu untuk berlibur di daerah Surabaya. Selain mendapatkan kegembiraan, saya juga bisa banyak belajar. Hal yg paling sering saya jumpai di daerah Surabaya adalah kebun bibit yang berada di wonorejo, saya sangat menikmati pemandangan itu, maklumlah di kota asalku yaitu Madiun tidak ada kebun bibit seperti itu. Setelah menikmati suasana kota saya juga suka menikmati kuliner surabaya yg diantaranya adalah ketoprak, nasi jagung, nasi pecel, nasi kucing dan jenis nasi lainnya yg memiliki nama - nama yang unik. Semua itu membuat saya ingin tinggal bersama nenekku di surabaya, walaupun saya tidak tinggal di kota ini, namun aku tetap bangga aku di lahirkan di tanah Surabaya.

 

Berawal dari membaca buku sejarah, dan dongeng menjelang tidur, yg biasa saya baca, tentang perjuangan pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kota surabaya, dari sinilah timbul dalam hati kecilku akan cita – cita saya untuk meneruskan perjuangan para pahlawan. Saat ini, saya menginjak kelas 6 SD, dan setiap hari diajari menyanyi oleh guru saya. Pada hari pahlawan, kami diajari menyanyi lagu tentang Surabaya, dari syair - syair lagu itu, menambah kuat rasa banggaku terhadap Surabaya. Aku bangga menjadi anak surabaya, yang terkenal dengan nama kota pahlawan.

 

Sekian cerita dari saya, terima kasih ………

Wassalammua’laikum Warahmatullahi Wabarokaatuh 

 

Selasa, 24 Juli 2018

                                                                    Cerpen Lembaran Baru


Namaku Nishimura Kazuto, teman – temanku biasa memanggiku Kazuto. Aku tak tau mengapa orang tuaku menamaiku Nishimura Kazuto yang ku tahu semua anggota keluargaku berasal dari Indonesia terkecuali Neneku, dia berasal dari Tokyo. Tema –temanku menjulukiku si “kutu buku”. Yah, mungkin karena kemana–mana aku selalu membawa buku. Selain membaca buku aku juga pendiam, kalau dikelas aku paling suka selalu duduk di pojok belakang deket jendela.
Kisahku adalah kisah yang tak dapat dideskripsikan. Kisahku tak seindah dan tak semenarik kisah kalian.Kisahku berawal dari mulai duduk di bangku kelas 7 di SMPI AL MIZAN Surabaya. Semua yang kulakukan sewaktu di SD dulu telah sirna seketika. Dan saat ini adalah taahun ke 2 ku di SMPI AL MIZAN Surabaya. Disekolah ini aku banyak mengambil pelajaran yang tak semua sekolah memilikinya. Peraturan demi peraturan setiap tahunnya pasti akan berubah dan pastinya makin ketat. Aku bersyukur karna bisa sekolah di sini. Sekolah ini mengajarkanku bertapa pentingnya sebuah ketaatan.
            Suatu hari disekolahku mengadakan sebuah lomba menulis cerpen. Banyak anak – anak yang ikut serta dalam lomba menulis cerpen tersebut dan aku satu diantara banyaknya anak yang ikut serta dalam lomba tersebut. Aku memiliki sahabat namanya Ishida Keiko, dia anak yang baik, cantik, periang dan tentunya pintar. Dia juga termasuk salah satu diantara peserta lomba menulis cerpen.
“ Kazu….” Dari kejauhan Keiko memanggil Kazuto.
Merasa namanya di panggil Kazuto pun menghentikan langkahnya.
“ Ya ada apa Keiko?”
“ Kamu ikut lomba menulis cerpen?” tanyanya padaku
“ Pastinya lah ikut, lagian itu juga sebagai rasa banggaku kepada kebangsaan Indonesia. Jika aku ikut lomba menulis cerpen berarti aku juga menjunjung tanah air Indonesia”jawabku dengan tenang.
“ Gimana kalau nulis cerpennya dirumahku saja?”
“ Oke, rumah kitakan berdekatan”
“ Aku tunggu ya Kazu pukul 15.00 sore”
Merekapun berpisah masuk ke rumah masing – masing.
                                                            ***
“ Assalamualaikum” ucapku samil mengetuk pintu.
“ Waalaikumsalam”  jawab bunda daridalam sambil membuka pintu.
Meskipun aku sudah SMP tapi sifatku masih seperti anak – anak seumuran SD. Masih membutuhkan kasih sayang dari orang tua. Contohnya, saat pulang sekolah aku pasti langsung berjabat tangan dan bunda pun mencium kedua pipiku.
“ Bun nanti aku ke rumah Keiko ya.”
“ Mau ngapain?, tadi gurumu telpon bunda katanya kamu ikut lomba menulis cerpen. Kok malah main sih?” omelny panjang lebar.
“ Iya.. bunda Kazu itu mau kerumah Keiko mau ngerjain tugasnya.” jawabku.
“iya tapi jangan lama – lama ya.”
“ Oke.. bunda.”

                                                            ***
“ Keiko,”
“ Iya sebentar,”
“ Jadi nggak?”
“ Jadilah, ayo masuk.”
Aku dan Keiko masuk rumah dan menuju ruang belajar dan mulai mengerjakan tugasnya.
30 menit kemudian tak terasa tugas pun selesai, aku pun berpamitan kepada Keiko dan bunda Laura untuk pamit pulang dan tentunya tak lupa mengucapkan terima kasih kepada mereka yang sudah menyambutku dengan hangat.
                                                            ***
Setelah cerpen dikumpulkan ke wali kelas untuk di seleksi dan diambil 3 terbaik. Kemudian ketiga cerpen terbaik tersebut akan dikirim ke dinas untuk mewakili sekolah dalam lomba cerpen.
Dan di antara ke 3 terbaik itu aku termasuk didalamnya dengan judul “ Aku bangga dengan negriku.”
Namun kegembiraanku sirna seketika saat kuliah wajah sahabatku murung, aku pun menghampirinya.
“ Hey… Keiko ada apa? Mengapa wajahmu murung?”
“ Aku tak apa Kazu.”
“ Jika kau tak apa mengapa wajahmu murung?”
“Aku hanya tidak enak badan saja kazu.” Jawabnya tanpa menatapku dan beranjak pergi meninggalkanku dengan tatapan bingung aku pun melepas kepergiannya. Aku tak tahu mengapa dia bisa seperti itu. Saat ini aku hanya bisa berfikir positif saja. Semoga dia baik – baik saja.
                                                            ***
Hari demi hari persahabatanku dengan Keiko semakin renggang, semenjak kejadian 1 Minggu yang lalu kami mulai jarang berbincang.
Da tibalah saat yang ditunggu – tunggu. Yaitu pengumuman lomba menulis cerpen telah tiba.
Aku memenangkan lomba tersebut. Aku mendapat juara 2. Dan pada kejadian tersebut aku baru sadar bahwa aku telah melakukan kesalahan. Aku tahu apa yang menyebabkan dia murung dan menjauh dariku.
Dalam hati aku sangat menyesal mengapa aku baru menyadarinya saat ini. Kenapa tidak dari kemarin – kemarin. Penyesalan demi penyesalan muncul dalam diriku. Aku tak tahu harus berbuat apa, yang ada dalam pikiranku hanyalah kalimat maaf. Dan aku tak tahu bagaimana cara memulai kata maaf tersebut.
                                                                        ***
Tibalah saatnya pulang sekolah.
“ Kring… kring…” bunyi lonceng sekolah berbunyi dengan nyaringnya. Pertanda berakhirnya pelajaran hari ini. Anak – anak segera berhamburan keluar kelas untuk pulang. Aku berkeliling lapangan mencari seseorang yang entah sejak kapan aku mencarinya.Dan pada akhirnya dibawah pohon beringin yang besar aku menemukannya sedang duduk termenung membawa selembar kertas.
“ Keiko..”
“ Apa yang kau lakukan disini Kazu?”
“ Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu Keiko.”
“ Bukan urusanmu”
“ Tentu saja itu urusanku aku sahabatmu Keiko. Dan kedatanganku saat ini aku ingin meminta maaf padamu.”
“ Meminta maaf untuk apa?” jawabnya tanpa menatapku.
“ Aku tak tahu” jawabku lemah.
“Lantas apa maksudmu meminta maaf jika kau saja tak tahu apa kesalahanmu.”
“Makanya aku datang kesini, aku ingin bertanya padamu apa salahku Keiko.”
“Kau tak bersalah Kazu.”
“ Jika aku tak bersalah mengapa kau menjauhiku”
“ Apa ini yang dinamakan sahabat. Dia pergi tanpa kejelasan, dia marah tanpa pernah tau kesalahannya apa, dan dia tidak mau mendengarkan kata ucapan sahabatnya. Apa ini yang dinamakan sahabat?”
 Di kejauhan ku mendengar isakan tagis, aku dalam posisi serba salah, yang kulakukan hanya menghampiri Keiko untuk menenangkannya.
“ Maaf…” Ucapnya dengan nada lirih.
“ Maaf untuk apa Keiko, bukankan aku yang harus meminta maaf padamu.”
“ Maaf Kazu aku yang salah tidak bisa menjadi sahabat yang baik bagimu.”
“ Yang berlalu biarkanlah menjadi bagian dari masa lalu dan kita jadikan saja sebagai pelajaran. Dan saat ini kita mulai dari awal.”
            Dibawah pohon beringin kami berjanji menjalin ikatan persahabatan selamanya.
Kami akan selalu bersama, saling ada saat dibutuhkan. Terkadang sebuah ikatan itu suatu saat pasti akan timbul permasalahan dan disini kisah Kazuto dan Keiko mengajarkan kita bahwa persahabatan itu bukan dari materi saja tapi dari kesetiaan. Dari kesetiaan maka timbullah rasa senang satu sama lain.
Amanat : Sebuah ikatan yang tidak di dasari dengan kepercayaan maka tak selamanya akan abadi.